3.6 Perlakuan Terhadap Perempuan.

Kendati  sebagai  anak  yang  tumbuh  di  Mesir,  saya  marah  pada  cara  Muslim memperlakukan perempuan. Dengan belajar Quran dan sejarah Islam, saya melihat bahwa banyak pembatasan bagi perempuan datang langsung dari Muhammad. Sekali lagi ini menyebabkan saya heran, apakah Tuhan sejati penguasa surga akan memperlakukan orang seperti itu.

Dalam bab ini, tujuan saya adalah untuk menunjukkan secara sederhana sikap Muhammad terhadap perempuan, dan juga hubungan dia dengan perempuan dalam hidupnya,  dari  sini  Anda  dapat  melihat  bagaimana  tradisi  masyarakat  Islam dikembangkan.

Kita  juga  akan  melihat  perilaku  Yesus  dan  hubungan  pribadiNya  dengan perempuan.

Bab ini dibagi menjadi tiga bagian:

  • Ajaran mereka tentang karakter perempuan;
  • Ajaran mereka tentang perkawinan;
  • Hubungan pribadi mereka dengan perempuan.

PENGAJARAN MUHAMMAD TENTANG KARAKTER PEREMPUAN

Dalam Quran dan ajaran Muhammad seperti yang tercantum dalam hadist, kami memiliki sejumlah besar informasi tentang perempuan.

Muhammad  membuat  perbedaan  yang  jelas  antara  perempuan  dan  laki-laki, sayangnya, banyak komentarnya tentang perempuan terdengar tidak menyenangkan.

Apakah Perempuan Jahat?

Ketika Muhammad melakukan kunjungan ke surga dan neraka (selama Perjalanan Malam), ia melaporkan:

”Saya melihat di surga dan menemukan bahwa kebanyakan penduduknya orang yang miskin, dan melihat ke dalam api (neraka) dan menemukan bahwa sebagian besar dari penduduknya adalah perempuan” 

Pada masa Muhammad, perempuan harus berhati-hati untuk tidak berjalan dekat orang-orang  yang  sedang  sholat ,  karena  Muhammad telah  mengatakan  bahwa  jika seorang perempuan lewat di dekat orang yang sholat, sholat itu menjadi batal dan harus mengulang dari awal. Istri kedua Muhammad, Aisyah, melaporkan pengajaran ini dengan protes ringan:

Saya telah disebutkan hal-hal yang membatalkan sholat. Aku berkata, ”Doa dibatalkan oleh anjing, seekor keledai dan perempuan (jika mereka lewat didepan orang-orang yang berdoa).” Saya menjawab: ”Anda telah membuat kami (perempuan) seperti anjing” 

Lain waktu, Muhammad menggambarkan perempuan sebagai ”pertanda buruk” atau malapetaka.

”pertanda buruk yang telah disebutkan sebelumnya oleh Nabi: Nabi berkata: ”Jika ada pertanda buruk dalam sesuatu, di dalam rumah, adalah perempuan dan kuda” 

Perempuan  dianggap  najis  selama  mereka  mengalami  siklus  haid  (mens)  dan Muhammad mengatakan bahwa perempuan tidak berdoa dan puasa pada masa itu, ia juga mengatakan hal ini menempatkan wanita dalam posisi negatif di mata Allah.

”Ketika Rasul Allah pergi ke Mushalla (untuk berdoa) … Kemudian ia berpas- pasan  dengan  perempuan-perempuan  dan  berkata:  ”Hai  perempuan,  lakukan zakat karena saya melihat bahwa sebagian besar dari penghuni neraka adalah anda (perempuan).” Perempuan bertanya: ”Mengapa demikian hai Rasul Allah?” Dia menjawab, ”Anda dikutuk secara teratur dan tidak bersyukur terhadap suami. Saya tidak pernah melihat siapapun lebih kurang dari anda untuk kecerdasan dan iman.  Setiap  dari  anda  dapat  dengan  mudah  mengalihkan  seorang  laki-laki sensitif.” Perempuan bertanya: ”Wahai Rasul Allah, apa yang kurang dalam kecerdasan dan iman kami?” Dia berkata: ”Tidakkah bukti yang disajikan oleh dua wanita sama kesaksian dari satu pria?” Mereka merespon ya. Dia berkata: ”Ini adalah perbedaan dalam kepandaian. Apakah benar bahwa perempuan tidak dapat berdoa dan berpuasa selama siklus?” Perempuan-perempuan berkata ya. Dia  berkata: ”Ini adalah kelemahan dalam keyakinannya” 

Perempuan Lebih Rendah?

Apakah  Muhammad  percaya  bahwa  perempuan  lebih  rendah  untuk  laki-laki?  Muhammad mengatakan bahwa diperlukan kesaksian dua perempuan agar dapat setara dengan kesakian seorang laki-laki:

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika  tak  ada  dua  orang  lelaki,  maka  (boleh)  seorang  lelaki  dan  dua  orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Surah 2:282

Muhammad menjelaskan alasan dari doktrin ini dengan cara:

Nabi berkata: ”Bukankah kesaksian seorang perempuan setengah dari laki-laki?” Wanita menjawab: ”Ya”. Dia berkata: ”Ini adalah karena kurangnya kepandaian seorang perempuan” 

Dalam Islam, perempuan menerima bagian dari warisan yang lebih kecil dari laki-laki.

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan Surah 4:11

Perempuan Harus Memakai Penutup

Banyak orang bertanya mengenai kerudung bagi muslimah. Pada permulaan Islam, saat  Muhammad  hidup  di  Mekah  dengan  hanya  seorang  istri  pertamanya,  ia  tidak meminta muslimah untuk memakai kerudung. Setelah pindah ke Madinah, sesuatu terjadi dan keluarlah wahyu baru mengenai perempuan.

Muhammad mulai menikahi banyak wanita, dan secara adat, Muhammad biasanya mengadakan perayaan setelah setiap perkawinan. Dan setelah perayaan untuk Zainab binti Jahsy (nanti saya akan beritahu Anda lebih banyak tentang dia), beberapa orang tetap tinggal di rumah setelah Muhammad pergi.

Hari  berikutnya,  salah  satu  pengikut  yang  paling  setia  dari  Muhammad menyarankan:

Disampaikan oleh Umar: aku berkata: ”Wahai Rasul Allah! Orang yang baik dan buruk mendatangi kamu, maka saya sarankan anda memesan ibu dari orang- orang yang beriman (yaitu, istri anda) untuk memakai kerudung.” Kemudian  Allah  mewahyukan ayat-ayat dari Al-Hijab

Pada hari yang sama, Muhammad menerima wahyu dari Malaikat Jibril yang memerintahkan muslimah memakai kerudung.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Surah 33:59; lihat juga ayat 33 dan Sura 24:31, 58 ff

Jadi mulai saat itu perempuan mulai memakai kerudung. Istri kedua Muhammad, Aisyah, memberi komentar bagaimana cara perempuan mengikuti wahyu baru ini:

”Aisyah sering berkata: ”Ketika itu diturunkan (ayat): ‘Mereka harus kerudung mereka ke bawah hingga leher dan dada’ disampaikan, mereka (perempuan) memotong ujung-ujung kemeja mereka dan kemudian menutupi wajah mereka dengan menghadap potongan itu” 

Sejak itu tujuan Muhammad mengenai kerudung telah jelas dan muslimah pada masa itu menutupi wajah mereka. Bahkan saat ini Muslim konservatif mengikuti Quran secara harafiah, dan muslimah juga menutupi wajah mereka. Muslim liberal, memilih memakai pakaian modern, modis, tetapi layak daripada tertutup.

Perempuan Sebagai Harta Rampasan Perang

Setiap kali desa atau suku melawan Muhammad dan tentaranya, dan kemudian telah dikalahkan, Muslim diperbolehkan untuk mengambil perempuan dan anak-anak sebagai budak. Bab 29 buku 8 dari hadist sahih Muslim memiliki judul berikut:

Diizinkan berhubungan seks dengan tawanan wanita jika ia telah bersih (dari menstruasi  dan  melahirkan).  Jika  perempuan  telah  memiliki  suami, perkawinannya dibatalkan setelah ia menjadi tahanan

Hadist kemudian menjelaskan saat peraturan ini dibuat:

”Dalam Pertempuran Hanain, Rasul Allah mengirim pasukan ke Autas, dimana mereka menghadapi musuh dan melawannya. Setelah memenangkan pertarungan dan  membawa  tawanan,  sahabat  Rasulullah  nampaknya  menahan  diri  dari berhubungan  seksual  dengan  wanita  tahanan  karena  suaminya  polytheis. Kemudian Allah, Yang Maha Kuasa, memberikan wahyu: ”Di antara semua perempuan, yang telah menikah, kecuali mereka adalah budak” (4:24) (yaitu, yang sah untuk mereka ketika mereka telah selesai masa Iddah) 

Tidak hanya hadist yang mengatakan ketentuan ini, tetapi Quran juga merujuk kepada tahanan perempuan yang tersedia untuk pemiliknya, bahkan jika pada waktu itu telah menikah (lihat Surah 4:24).

Muslim, jika mereka mau, mereka memiliki pilihan untuk melepas perempuan itu dari perbudakan dan mengambil mereka sebagai istri.

Kepedulian Muhammad Untuk Perempuan

Walaupun telah memberikan kritik dan perilaku tidak menyenangkan terhadap perempuan, Muhammad memastikan bahwa muslimah mendapat perhatian, khususnya mereka yang miskin dan janda. (masyarakat Islam memiliki jumlah janda yang besar karena mereka mempraktekkan jihad). Ia merawat mereka dengan harta rampasan perang dan pajak amal (zakat) yang dikumpulkan oleh semua orang yang berada dibawah otoritas Islam.

AJARAN YESUS TENTANG KARAKTER PEREMPUAN

Yesus tidak membuat komentar secara khusus tentang perbedaan karakter antara perempuan dan laki-laki, tetapi kita dapat memahami posisi perempuan cukup dengan memperhatikan bagaimana Ia memperlakukan mereka. Injil mencatat Yesus yang memuji perempuan  untuk  iman  mereka,  menyembuhkan  sakit  mereka,  mengusir  setan  dari mereka dan memaafkan dosa mereka – sama seperti yang dilakukanNya untuk laki-laki.

Memuji Iman Perempuan dan Menyembuhkan Mereka

Seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun, melihat Yesus dalam keramaian. Ia menyentuh ujung jubah Yesus, dan Yesus merasakannya. ”Siapa yang menyentuh jubah Saya?” Ia bertanya. Wanita itu ketakutan, karena menurut hukum Yahudi, pendarahan membuatnya najis dan tidak dapat menyentuh siapapun. Yesus berkata: ”Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” (Markus 5:34)

Jadi Yesus memuji iman perempuan, dan komentarNya kontras dengan ajaran Muhammad yang menyatakan bahwa perempuan ”kurang iman”.

Yesus juga memuji wanita lain untuk imannya. Ini adalah seorang wanita dari golongan  bukan-Yahudi  yang  terus  memohon  pada  Yesus  untuk  mengusir  setan  dari anaknya. Yesus berkata kepadanya: ”Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” (Matius 15:28).

Yesus juga mengatakan bahwa bahkan persembahan dari seorang janda dapat lebih berharga daripada seorang yang kaya.

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi  janda  ini  memberi  dari  kekurangannya,  bahkan  ia  memberi  seluruh nafkahnya. Lukas 21:1-4

Sikap Yesus bertolak belakang dengan Muhammad. Ingatlah bahwa Muhammad mendorong sekelompok perempuan untuk ”bersedekah” untuk menutupi kekurangan mereka dalam kecerdasan dan iman.

Mengusir Setan Dari Mereka

Beberapa murid-murid Yesus termasuk perempuan yang telah Dia bebaskan dari setan.

Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain.  Lukas 8:1-3a

Yesus juga menyembuhkan seorang wanita yang selama 18 tahun telah lumpuh karena roh jahat (Lukas 13:10-13).

Memaafkan Dosa Perempuan

Sementara Yesus dan murid-muridNya berpergian ke Samaria, mereka berhenti di sumur di luar kota. Yesus lelah dan beristirahat di sana sementara para murid pergi ke kota untuk membeli makanan. Seorang wanita datang untuk mengambil air dan Yesus mulai berbicara dengannya. Kenyataan bahwa Yesus berbicara dengannya adalah suatu hal luar biasa untuk dua alasan:

1.  ia adalah seorang wanita

2.  ia adalah wanita Samaria, bangsa yang dianggap najis oleh orang-orang Yahudi

Setelah beberapa saat, Yesus mengejutkannya karena secara lembut mengungkapkan dia tinggal bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya; terkejut mengetahui bahwa Yesus mengetahui hidupnya, perempuan itu lari masuk ke dalam kota dan memberitahu kepada semua orang. Yesus tetap ada untuk mengajar selama dua hari dan kesaksian perempuan itu mendorong banyak orang Samaria beriman kepadaNya (Yohanes 4:1-42).

Alih-alih mengutuk perempuan untuk dosanya, Yesus memberi dia kesempatan untuk mengikutiNya.

Wanita lain datang pada Yesus sementara Dia makan di rumah pemimpin agama. Seorang perempuan yang dikenal karena memiliki kehidupan yang penuh dosa. Wanita ini memasuki rumah dan menangis tersedu-sedu di kaki Yesus, sementara air mata membasahi kakiNya, ia membersihkan kaki Yesus dengan rambutnya. Kemudian, ia mengambil sebotol parfum mahal, dan meminyaki kakiNya.  Para pemimpin agama membisikkan:  ”Sekiranya  Dia  seorang  nabi,  maka  Ia  akan  tahu  perempuan  yang menyentuhNya adalah orang berdosa.”

Yesus  menjawab  dan  berkata:  “Ya,  wanita  ini  sangat  berdosa,  tetapi  telah menunjukkan  kasih-Nya  yang  besar  untuk  Aku.”  Yesus  berkata  pada  wanita  ini, ”Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Lukas 7:36-50)

Yesus juga melakukan intervensi dalam kasus seorang wanita yang telah tertangkap sedang berzina dan telah akan dilempari batu oleh para pemimpin agama. KataNya pada orang-orang yang mendakwa perempuan itu, ”Siapa di antara kamu yang tidak berdosa akan melempar batu pertama kepada dia.” Ketika semua orang itu pergi, Yesus berkata kepada wanita itu, ”Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:11).

PERNIKAHAN

 Ajaran Muhammad Pada Perempuan Dalam Perkawinan 

Sejalan dengan sikapnya terhadap perempuan, Muhammad menjelaskan bahwa dalam  perkawinan,  pria  lebih  tinggi  derajatnya,  sedangkan  wanita  harus  tunduk.

Berkenaan dengan suami, Muhammad mengatakan:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.  Surah 4:34

Dalam ayat yang sama, dalam kasus seorang istri, Quran mengatakan:

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat (kepada Allah dan suami) lagi memelihara  (kesucian  dan  harta  benda  suami),  oleh  karena  Allah  telah memelihara (mereka).

Bagian kedua dari ayat ini memberikan kebebasan suami menghukum istrinya jika berkelakuan buruk:

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka (1) nasihatilah mereka dan (2) pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan (3) pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.

Perempuan dikutuk jika menolak untuk tidur dengan suaminya:

Nabi berkata: ”Jika seorang laki-laki meminta isterinya untuk tidur dengan dia dan  dia  menolak  untuk  berhubungan  dengan  dia,  maka  malaikat  mengirim kutukan pada dia sampai pagi hari” 

Perceraian diterima sebagai bagian kehidupan dalam budaya Islam. Seorang pria dapat menceraikan istrinya dengan berkata tiga kali, ”Talak (aku ceraikan kamu)” . Dan pria tersebut dapat menikahi istrinya lagi. Namun jika pria itu juga berkata ”Kamu seperti ibuku bagi aku”, maka ini adalah perceraian permanen dan ia tidak bisa menikahi istrinya kecuali wanita itu telah menikah lagi dengan pria lain dan bercerai dengannya. Setelah perceraian  kedua  terjadi,  suami  pertama  bebas  untuk  menikahinya  lagi  jika  ia menginginkannya (Surah 2:226-232). Namun, sang istri tidak diijinkan untuk meminta cerai atau mencegah suaminya menceraikannya (ketentuan ini berdasarkan Surah 4:34).

Dalam dunia Islam hari ini, di negara dimana berlaku hukum Islam (Saudi Arabia, Iran, Sudan, dan lain-lain) perempuan tidak diperbolehkan untuk memulai atau untuk menentang  perceraian, tetapi  di  negara-negara  sekuler,  memberikan  perempuan  hak untuk  bercerai.  Misalnya,  pada  tahun  2003  di  Mesir  meluluskan  hukum  yang memungkinkan perempuan untuk bercerai dibawah kondisi tertentu, seperti suami yang kafir.

Dalam hadist dijelaskan beberapa skenario dalam perceraian, kompensasi dan masa tunggu (iddah) sebelum menikah lagi. Hukum Islam memungkinkan untuk bercerai pada banyak keadaan, bahkan untuk hal-hal sepele. Suami, jika ingin, dapat bercerai hanya karena sulit untuk hidup dengan istrinya.

Quran mengijinkan seorang pria memiliki hingga empat orang istri jika pria itu mampu menghidupi mereka:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim  (bilamana  kamu mengawininya), maka kawinilah  wanita-wanita  (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Surah 4:3

Muhammad sendiri diijinkan untuk menikahi lebih dari empat wanita seperti yang Anda akan lihat nanti.

Ajaran Yesus Pada Perempuan Dalam Perkawinan

Tidak seperti Muhammad, Yesus mengajarkan bahwa perceraian harus dilarang.

Maka datanglah orang-orang Farisi, untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya:  ”Apakah  seorang  suami  diperbolehkan  menceraikan  isterinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: ”Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka:  ”Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat  surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa  menuliskan  perintah  ini  untuk  kamu.  Sebab  pada  awal  dunia,  Allah menjadikan  mereka  laki-laki  dan  perempuan,  sebab  itu  laki-laki  akan meninggalkan  ayahnya  dan  ibunya  dan  bersatu  dengan  isterinya,  sehingga keduanya  itu  menjadi  satu  daging.  Demikianlah  mereka  bukan  lagi  dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan  Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: ”Barangsiapa menceraikan  isterinya  lalu  kawin  dengan  perempuan  lain,  ia  hidup  dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.”  Markus 10:2-12

Yesus  memberi  nilai  rohani  yang  tinggi  pada  perkawinan.  Didukung  ajaran Perjanjian Lama, yang berkata Tuhan telah menetapkan ikatan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, ikatan ini sangat akrab sehingga digambarkan dua orang menjadi  ”satu daging” (Kejadian 2:24).

Yesus  tidak  memberikan  instruksi  lebih  lanjut  mengenai  perkawinan,  tetapi pengikutNya telah membuat pernyataan lebih lanjut tentang perkawinan dan perceraian yang dicatat dalam Perjanjian Baru.

Sekarang  kita  lihat  peran  perkawinan  dalam  kehidupan  pribadi  Yesus  dan Muhammad.

ISTRI-ISTRI YANG TERKENAL DARI MUHAMMAD

Sebagaimana  sikapnya  berubah  terhadap  kafir  setelah  ia  hijrah  ke  Madinah, Muhammad juga berubah sikap terhadap istri-istri; mari lihat istri yang pertama dan 12 wanita lainnya yang dinikahi di Madinah.

Khadijah, istri pertama

Saat berusia 25 tahun, Muhammad menikahi istri pertamanya – Khadijah, yang telah berusia 40 tahun waktu itu. Khadijah digambarkan sebagai perempuan yang sangat mendukung moral Muhammad di saat-saat ia menerima ayat-ayat dan perlawanan dari masyarakat Mekah. Muhammad tetap setia menikah dengan satu istri saja selama 25 tahun hingga istrinya meninggal.

Aisyah, pengantin anak 

Sekitar  setahun  setelah  hijrah  ke  Madinah,  Muhammad  memilih  istri  yang mengejutkan bahkan untuk standar masyarakat Arab: ia adalah seorang gadis kecil berusia enam tahun, puteri Abu Bakr, salah seorang pengikutnya yang paling setia.

Nabi menulis (kontrak perkawinan) dengan Aisyah ketika berusia enam tahun dan berhubungan badan dengan dia sejak dia sembilan tahun. Aisyah tinggal dengan dia selama sembilan tahun (yaitu sampai kematian Muhammad)

Aisyah tidak hanya sekedar menjadi cerita membingungkan tentang mempelai anak, tetapi menjadi tokoh kunci dalam sejarah Islam. Ia menarasikan ribuan hadist yang menjelaskan kehidupan dan ajaran Muhammad, serta telah terlibat dalam suatu ancaman serius bagi kredibilitas Islam.

Ketika Muhammad memimpin tentara dalam peperangan, ia selalu memilih salah satu istri untuk pergi dengan mereka. Pada 5 H ia membawa Aisyah, dalam penyerangan  terhadap Bani Mustaliq, suku Yahudi, dimana saat itu Aisyah berusia sekitar sebelas tahun.

Berikut ini cerita menurut versi Aisyah. Dia berpergian dengan unta dalam ruangan khusus  tertutup.  Malam  hari  rombongan  berhenti  dan  Aisyah  pergi  meninggalkan rombongan untuk buang air di gurun. Saat kembali ke rombongan, ia menyadari ia telah kehilangan kalung, sehingga ia kembali untuk melihat dan mencarinya. Saat ia kembali ke rombongan, rombongan telah pergi, karena mereka berpikir bahwa ia ada di ruangan yang sama di bagian belakang unta. Aisyah menunggu di padang gurun, sampai seorang tentara Muslim datang dan mengenalinya. Ia membawa Aisyah kembali ke Madinah pagi harinya dengan untanya.

Beberapa orang menuduh Aisyah memiliki hubungan gelap dengan prajurit muda Muslim. Muhammad tidak membuktikan Aisyah tidak melakukan itu. Jadi orang mulai berkata: ”Bagaimana mungkin seorang nabi tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya?” Situasi ini berlangsung lebih dari 20 hari, sampai akhirnya Muhammad menerima wahyu dari Jibril yang menyatakan Aisyah tidak bersalah dan mengutuk orang-orang yang telah menuduhnya (Surah 42:11-18).

Reaksi dari kejadian ini tidak berhenti disini. Ali bin Abu Thalib, salah satu sepupu Muhammad yang tumbuh besar bersama, mencoba untuk meyakinkan dia agar bercerai dengan Aisyah. Aisyah mendengar ini dan memusuhi Ali untuk sisa kehidupannya.  Setelah kematian kalifah Islam ketiga (Usman bin Affan), Ali bin Abu Thalib terpilih menjadi  kalifah  Islam  selanjutnya,  tetapi  Aisyah  menolak  mengakuinya  sebagai pemimpin dan mengumpulkan tentara berbaris melawannya. Dalam ”Pertempuran Unta”, 10.000 Muslim terbunuh. Ali bin Abu Thalib dibunuh, anaknya menjadi penerusnya sampai ia meninggal karena racun oleh beberapa Muslim.

Jadi Aisyah – pengantin kecil, adalah tokoh penting dalam sejarah Islam. Mari perhatikan istri-istri lain yang menarik dari Muhammad.

Zainab, istri dari anak angkat Muhammad 

Suatu hari Muhammad pergi ke rumah Zaid bin Haritsah, anak angkatnya. Tiba di sana, Muhammad melihat bahwa anak angkatnya tidak di rumah dan istrinya, Zainab, berada di rumah sendirian. Saat wanita itu tiba di pintu, mata Muhammad bertemu mata Zainab, Muhammad berkata: ”Segala puji bagi Dia yang merubah hati dan pandangan.”

Muhammad merasakan getaran cinta pada wanita itu, dan Zainab menyadari bahwa Muhammad memiliki perasaan padanya.  Ketika suaminya kembali, dia mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi. Situasi ini menimbulkan dua masalah: pertama, Zainab telah menikah, dan masalah kedua yaitu bahwa suaminya adalah anak angkat dari Muhammad. Hukum Islam melarang seorang laki-laki untuk menikahi istri-istri anaknya.

Bagaimanapun sejak saat itu Zainab tidak memperlakukan suaminya dengan baik, menunjukkan bahwa ia tidak lagi tertarik kepadanya. Setiap kali Zainab melakukan itu, Zaid  pergi  kepada  Muhammad  untuk  mengeluh  tentang  istrinya,  berbicara  tentang perlakuan kasar  yang dia terima dari Zainab. Dan setiap kali Muhammad berkata: ”Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”. (Surah 33:37).

Setelah  berlangsung  beberapa  lama,  Zaid  akhirnya  menyerah  mempertahankan perkawinannya dan menceraikan Zainab.

Sejarah Islam mengatakan bahwa Muhammad memutuskan meminta Zainab untuk menikah dengannya, meskipun hal ini melanggar hukum Islam yang menyatakan bahwa seorang  laki-laki  tidak  boleh  menikahi  istri-istri  anaknya.  Anehnya,  Muhammad mengirim Zaid mengantar proposal perkawinan untuknya, yang kemudian datang ke rumah mantan istrinya, dimana dia menemukan Zainab sedang mengolah tepung untuk membuat roti. Kemudian Zaid berkata: ”Ketika saya melihatnya, saya tidak mampu melihat wajahnya, karena masih mencintainya.” Akan tetapi, ia harus menyampaikan pesan Muhammad. Mantan istrinya menjawab: ”Allah harus memberitahu saya untuk menikahinya.” Dan ia menambahkan bahwa ia akan pergi ke masjid untuk berdoa.

Kemudian Zaid kembali kepada Muhammad dan melaporkan apa yang telah terjadi  Sementara Zainab masih di dalam masjid, Muhammad menyampaikan wahyu yang baru diterima dari Malaikat Jibril:

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ”Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid  telah  mengakhiri  keperluan  terhadap  istrinya  (menceraikannya),  Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Surah 33:37-38

Wahyu ini khusus mengatakan bahwa Allah telah memerintahkan Zainab untuk menikah dengan Muhammad. Dari ayat ini juga diketahui bahwa perkawinan ini akan membantu Muslim lain, dengan cara menunjukkan bahwa adalah halal bagi manusia untuk  menikahi  mantan  istri  dari  anak  yang  diadopsi,  asalkan  perkawinan  telah dibubarkan sepenuhnya.

Muhammad juga menerima wahyu yang meniadakan adopsi:

”Allah sekali-kali…., dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).” Sura 33:4

Akibatnya, Zaid tidak lagi dianggap sebagai anak Muhammad, yang pada akhirnya dapat mengesahkan perkawinan Muhammad dengan Zainab.

Pada akhirnya, Zainab sepakat untuk menikah dengan Muhammad dan ia menjadi isteri kelima (5 H). Mantan suaminya meninggal tiga tahun kemudian, dalam perang jihad.

Zainab cukup senang dengan apa yang terjadi pada dirinya, hadist mencatat:

Zainab sering membanggakan diri dihadapan istri-istri Nabi dengan berkata:

”Kamu menikah oleh karena keluargamu, sementara saya menikah (dengan Nabi) oleh Allah dari langit ke tujuh”

Mari lihat satu lagi contoh spesifik bagaimana Muhammad mendapat salah seorang istri – yang kali ini seorang tawanan perang.

Safiya, Yahudi yang cantik

Sekitar 7 H, Muhammad telah mengusir sebagian besar orang-orang Yahudi dari Arab,  kemudian  orang-orang  Yahudi  ini  tinggal  di  satu  desa,  yaitu  desa  Khaybar. Muhammad dan tentaranya mengepung desa itu di malam hari dan menyerang saat penduduk  sedang  tidur.  Muhammad membunuh  orang  laki-laki,  pemuda  dan orang dewasa kemudian mengambil perempuan dan anak-anak sebagai tahanan .

Muhammad memperhatikan salah seorang tahanan, seorang gadis cantik, Safiya namanya. Ayahnya adalah kepala suku Khaybar dan dia masih seorang pengantin baru. Hari itu ayah dan suaminya telah dibunuh oleh orang Islam. Muhammad bertanya pada orangnya: ”Siapa pemilik tahanan wanita ini?” Mereka berkata: ”Ia kepunyaan Qais bin Thabet Al-Shammas.”

Muhammad memberikan orang ini dua sepupu Safiya, dan mengambil Safiya untuk dirinya sendiri. Gadis ini dibawa ke Madinah oleh Muhammad dan, selama perjalanan, setelah siklus haidnya selesai, Muhammad menikahinya.

Malam dimana Muhammad berhubungan dengan Safiya, salah seorang pengikutnya tetap berdiri semalaman dan berjalan di sekitar tenda dengan pedang di tangan. Pagi harinya  ketika  Muhammad  bertanya  mengapa  dia  melakukannya,  pengikutnya  itu menjawab: ”Saya khawatir akan keselamatan anda karena perempuan ini. Tentara Islam membunuh ayahnya, suami dan kaumnya, dan sampai saat ini ia masih kafir, sehingga saya mengkhawatirkan keselamatan anda karenanya”

ISTRI-ISTRI LAIN MUHAMMAD SAW

Setiap istri Muhammad memiliki kisahnya masing-masing. Saya telah menceritakan beberapa yang paling penting dan menarik. Berikut daftar lengkap istri

1.  Khadijah Khu-Walid bin (dia menikah dengan Muhammad di Mekkah selama 25 tahun hingga dia meninggal).

2.  Aisyah bin Abu Bakr (dia muda, pencemburu dan menyebabkan masalah, tetapi merupakan  salah  satu  favorit.  Putri  teman  dekat  Muhammad  dan  pengganti pertama otoritas Islam).

3.  Hafza binti Ibn Umar Al-Khattab (adalah puteri salah satu pejuang paling ganas yang dimiliki Muhammad).

4.  Umm-Habib Rumleh binti Abi Sufyan (adalah putri kepala suku Quraish dari Mekkah  yang  mualaf  kepada  agama  Islam  tepat  sebelum  Muhammad menaklukkan kota).

5.  Zainab  binti Jahsy  (adalah  istri  pertama  dari  anak angkat  Muhammad, saat keduanya bercerai, ia menikah dengan Muhammad).

6.  Umm Salama binti Abi Ummayah Hende.

7.  Maymuna binti el-Harith al-Hilleliah.

8.  Sauda binti Zema’a el Amawiya.

9.  Juwayriya binti al-Harith (gadis Yahudi yang telah diambil sebagai tawanan perang pada penyerangan Bani Mustaliq, bertepatan waktu yang sama Aisyah dituduh berzina).

10. Safiya  binti  Ho-yeah  (gadis  Yahudi  tawanan  perang  selama  penyerangan  di Khaybar).

11. Ra-Hana binti Shumahon.

12. Maria binti Shumahon.

13. Umm Sharik.

Seperti yang Anda ingat, Quran mengizinkan Muslim untuk memiliki hanya dua, tiga, atau empat istri; tetapi Muhammad adalah pengecualian. Ia melaporkan bahwa dia menerima wahyu yang menentukan jumlah perempuan yang diijinkan untuk dinikahinya:

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu,  dan  (demikian  pula)  anak-anak  perempuan  dari  saudara  laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan  dirinya  kepada  Nabi  kalau  Nabi  mau  mengawininya,  sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sura 33:50 Terjemahan Ali

Pada kematiannya, Muhammad meninggalkan sembilan janda, yang dilarang untuk menikah kembali setelah kematiannya ( Surah 33:6, 52).

Perempuan Lain Muhammad

Selain dari istri-istri, Muhammad memiliki kelompok perempuan lain yang siap melayaninya. Mereka adalah para budak yang telah dibeli atau diperoleh sebagai tawanan perang.  Semua  budak,  laki-laki  dan  perempuan,  yang  dalam  bahasa  Arab  disebut milkelimen,  budak  laki-laki  diperintahkan  oleh  Muhammad  untuk  memperhatikan kesejahteraannya,  istrinya,  rumah  mereka  dan  binatang  peliharaan  mereka,  serta mempersiapkan makanan, membawa air yang digunakan untuk wudhu sebelum sholat.

Dalam sejarah Islam terdaftar 43 nama budak laki-laki mereka .

Para  budak  perempuan  melakukan  tugas  yang  sama,  tetapi  hukum  Islam mengijinkan Muhammad untuk menggunakannya secara seksual tanpa kewajiban untuk menikah. Anak-anak yang lahir, tidak membawa nama Muhammad dan tidak mendapat warisan darinya. Anak itu akan menjadi hamba Muhammad dan bukan anak-anaknya, dan dia mempunyai hak untuk memiliki mereka untuk diri sendiri atau untuk menjualnya (hukum Islam membolehkan setiap Muslim untuk memiliki milkelimen). Dalam sejarah Islam terdaftar 23 nama budak wanita ini.

KESELURUHAN HUBUNGAN MUHAMMAD DENGAN ISTRI-ISTRINYA

Kehidupan sosial Muhammad selalu penuh dengan pergumulan: baik dengan istri- istrinya  maupun  di  antara  para  istri.  Sejarah  Islam  menunjukkan  banyak  rincian pertikaian mereka. Suatu waktu istri-istri Muhammad bersikeras menuntut uang dan Muhammad  mengatakan  bahwa  ia  tidak  memiliki  apa-apa  untuk  diberikan.  Dalam kejengkelan, ia memisahkan diri dari istri-istrinya selama satu bulan (29 hari). Lalu ia menawarkan pada setiap istrinya kesempatan untuk bercerai. Ia berkata pada Aisyah, pengantin kecilnya, ia perlu bertanya pada orang tuanya tentang masalah ini. Pada akhirnya semua sepakat untuk tetap tinggal di rumahnya.

Untuk mengatur hubungan dengan istri-istrinya, Muhammad menugaskan seorang istri setiap hari untuk menghabiskan waktu dengan dia. Satu hari Aisyah membuat masalah dan dia ingin mengambil hari istri lain untuk bersama Muhammad, istri tersebut mengeluh tentang hal ini dan Muhammad mengancamnya bercerai. Karena ia sudah tua, ia mengalah ”Jangan ceraikan saya, saya akan tinggal denganmu dan memberikan malam saya untuk Aisyah.”

YESUS DAN PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG MEMBANTUNYA

Tidak ada bukti dalam Injil maupun dalam sejarah Kristen yang mengatakan Yesus pernah menikah, atau telah mempunyai istri. Yesus digambarkan memiliki persahabatan yang sangat baik dengan dua orang saudara kandung, yaitu Maria dan Martha. Dan Ia makan di rumah mereka (Lukas 10, Yohanes 12).

Para penulis Injil juga menyebutkan segelintir perempuan yang bepergian dengan Dia dan murid-murid untuk membantu mereka.

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama- sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes,  Susana  dan  banyak  perempuan  lain.  Perempuan-perempuan  ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka. Lukas 8:1-3

Perempuan-perempuan adalah pengikut yang setia dan mereka bersama Yesus, sampai penyalibanNya.

Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan- perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus. Matius 27:55-56

Ketika tubuh Yesus diangkat dari salib, dua dari perempuan ini mengikuti Yusuf dari  Arimathea,  melihat  tubuh  Yesus  dibaringkan  dalam  kubur  dan  batu  besar digulingkan menutupi depan pintu masuk (Matius 27:57-61). Mereka kemudian pergi untuk mempersiapkan rempah-rempah untuk meminyaki tubuh Yesus setelah sehari istirahat (Sabat) lewat.

Para  perempuan  itu  adalah  orang-orang  pertama  yang  melihat  Yesus  setelah kebangkitanNya.

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: ”Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: ”Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Matius 28:1, 9-10

Jadi kita dapat melihat bahwa beberapa perempuan mengikuti Yesus dan membantu Dia. Yesus bahkan memberi mereka hak istimewa untuk melihat terlebih dahulu setelah kebangkitanNya. Tidak ada indikasi bahwa Yesus berhubungan seks dengan mereka, masyarakat Yahudi akan mengutuk kelakuan seperti itu.

KESIMPULAN

Apa yang telah kita pelajari tentang sikap Yesus dan Muhammad terhadap perempuan?

Karakter perempuan

Muhammad menjelaskan perempuan dengan negatif.

Yesus memperlakukan perempuan dengan cara yang sama dengan laki-laki.

Ajaran tentang perkawinan

Muhammad menggambarkan perempuan harus menjadi sasaran bagi pria dimana dia diperbolehkan untuk diceraikan di berbagai keadaan.

Yesus berbicara perkawinan sebagai persatuan yang ditahbiskan oleh Allah, yang hanya bisa dirusak oleh pasangan yang tidak beriman.

Hubungan dengan perempuan

Muhammad memiliki banyak istri, dan memiliki banyak tantangan bersamanya.

Yesus tidak pernah menikah, tetapi ada sekelompok perempuan yang berpergian dengan Dia dan membantu Dia.

Sekali lagi kita melihat perbedaan dalam kepribadian dan dalam karakter Yesus dan Muhammad. Adalah sangat menarik untuk memperhatikan perbedaan yang jelas ini saat keduanya harus menghadapi tantangan serupa. Bab berikutnya menjelaskan peristiwa paralel yang mengherankan dalam kehidupan mereka, dan bagaimana mereka bereaksi.

About worldlastchance.
Going beyond simple shots at Religion for pure shock value,This homepage is meant for exchanging views and providing information to foster better understanding between those who embrace Islam and those who embrace Christianity. All comments are welcome.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: